Draft Kurikulum 2013


tutwuri handayaniTerdapat isu yang mengemuka di dunia pendidikan Indonesia belakangan ini. Hal ini terkait dengan adanya draft Kurikulum 2013 yang mulai dilakukan uji publik pada bulan Nopember 2013 dibeberapa wilayah oleh Kemendikbud. Uji publik pertama kali dilakukan di Universitas Negeri Manado di Tomoho (Sulawesi Utara) pada tanggal 24 Nopember 2012.

Inti pada draft Kurikulum 2013 ini adalah penyederhanaan dan tematik integratif. Pada kelas SD penyederhanaan ini dapat dilihat pada jumlah mata pelajaran yang dimampatkan. Semula ada 10 mata pelajaran (Kurikulum 2006, KTSP) menjadi 6 mata pelajaran (alternatif 1, draft Kurikulum 2013) dan 8 mata pelajaran (alternatif 2, draft Kurikulum 2013) tetapi meskipun begitu justru terjadi peningkatan jumlah jam belajar rata-rata 4 jam pelajaran per minggu pada semua kelas SD.

Selama ini dalam penerapan Kurikulum 2006 (KTSP) pembelajaran tematik sudah diterapkan pada kelas I – III SD namun warna mata pelajaran sangat kental dan berjalan sendiri-sendiri. Hal ini tampaknya ditangkap oleh Kemendikbud sehingga dimunculkan kompetensi inti pada draft Kurikulum 2013 sebagai pengikat pembelajaran tematik yang lebih integratif. Bahkan pada draft Kurikulum 2013 ini, pembelajaran tematik akan diterapkan pada kelas I sampai dengan kelas VI SD. Salah satu dasar pemikiran penerapan pembelajaran tematik integratif pada kelas SD dalam draft Kurikulum 2013 ini adalah hasil pembelajaran yang menggembirakan pada sekolah-sekolah alternatif setelah menerapkan bentuk pembelajaran tematik ini.

struktur kurikulum 2013

Beberapa permasalahan yang akan mengemuka untuk dicarikan solusi jika draft Kurikulum 2013 benar-benar diterapkan pada SD adalah pada sistem penilaian dan alokasi waktu untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Selama ini ketika pembelajaran dilakukan secara tematik, namun pelaksanaan penilaian masih dilakukan berdasarkan pada Kompetensi Dasar (KD). Tepatkah ini? Jika akan ada Kompetensi Inti (KI) sebagai perajut antar Kompetensi Dasar (KD), bagaimana menerapkan penilaian otentik ini sehingga terintegrasi ke dalam pembelajaran yang tematik? Untuk itu perlu diciptakan sistem penilaian otentik yang aplikatif sehingga para guru tidak memiliki persepsi yang berbeda dalam melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.

Pada Kurikulum 2006 (KTSP) mata pelajaran Bahasa Daerah masih mendapatkan alokasi waktu untuk ditempatkan pada mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) sebanyak 2 jam pelajaran per minggu. Jika pada draft Kurikulum 2013 ini mata pelajaran tersebut sudah tidak mendapatkan alokasi waktu, apakah hal tersebut tidak sama artinya dengan mempercepat pengikisan budaya lokal?

Sebagai guru dan orang-orang yang peduli pada dunia pendidikan sangat bijaksana jika turut terlibat menjadi batu gosok di dalam proses penajaman kurikulum 2013 ini. Harapannya Kurikulum 2013 ini menjadi kurikulum yang reseptif dan mampu menjawab berbagai tantangan global untuk mewujudkan generasi emas Indonesia. Untuk itu silahkan menyimak draft Kurikulum 2013 dengan mengunduhnya melalui link di bawah ini.

Download draft Kurikulum 2013.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s